Friday, April 3, 2015

My first race!

About 19 months ago I wrote about jogging and how much I had improved ("practice makes perfect"). I keep on jogging ever since and it improves bit by bit until I have this thought of entering a marathon race.

Around at the same time, this friend of mine were asking us to join a marathon race of 10K in 2 hours limit. I hesitate that I can finish it in time, cause I never run that far. So she searched again and find a 5K marathon in 2 hours, with a cheaper fee. Well, I think I can do this, then I thought. I used to run about 3K in 30 minutes, so I definitely can finish this in time.

So me and three of my friends joined the marathon. It was my first time. So I was excited for the whole afternoon. The feeling of running with hundreds of people together is really intense. While running, I managed to saw and examined few families with either one or two children running together. I felt so happy just seeing them gather together running and caring about exercising and healthy.

I finished my race in 45 minutes with nonstop run/jog. A faster pace than my usual run. In the end, I learned that racing is not about comparing yourself to others nor how fast you can go. But it's about knowing yourself. Knowing your own pace and ability to finish it and beat your own personal goal, without being intimidated or tempted by others.

Who would have thought that this girl, who barely finished a 400m race in high school, now can run a 5K race, nonstop in 45 minutes?

I proved it that anything is possible, as long as you try. And yes, practice makes perfect.

Monday, March 30, 2015

Aturan di Indonesia

Belakangan ini aku baca beberapa notes dan kritikan tentang Indonesia, mostly about the new president. Well, aku disini ga mau ngebicarain tentang tiap-tiap orang di kepemerintahan, karena menurutku itu lebih subjektif, apalagi dengan keterbatasannya informasi. Aku lebih pengen nulis tentang Indonesia itu sendiri. Negara yang kita tempati selama bertahun-tahun. This thought have always been on the back of my mind. Sometimes I share it verbally to some friends, but haven't get the chance to write it down. 

Consider this question: If you could name one aspect - just one - to change Indonesia, what would it be?

Kemungkinan besar jawabannya bervariasi. But for me, jawabannya adalah hukum/peraturan. Here's why:

1. Masalah Transportasi Umum

This is the most inconvenient thing about Indonesia, specifically Jakarta. Dan ini yang menyebabkan macetnya Jakarta yang semakin lama semakin parah. Terlalu banyak orang yang beralih ke kendaraan pribadi, karena transportasi yang ngga nyaman. Transportasi umum di Jakarta itu ngga banyak, ngga tentu datengnya kapan (kadang setengah jam sekali, kadang sejam sekali, kadang ngga datang) dan yang pasti ngga nyaman karena terlalu banyak penumpang. 

Klo ditarik ke akar permasalahannya, pertama, para supir bis/angkot itu tidak dapat gaji/bonus berdasarkan ketepatan waktu, melainkan berdasarkan banyaknya penumpang. Jadi apa yang terjadi? Banyak bis/angkot yang rela ngetem bermenit-menit dan tetiba memperpanjang rute tanpa peduli waktu dan rela nge-'jejelin' penumpang ngga peduli sesaknya ruangan. Mereka ngga akan peduli kalau kita protes, 'cause that's how they can get more money. Coba kalau peraturannya diubah. Tiap bis/angkot sudah ditetapkan waktu perjalanannya di tiap-tiap halte, dan mereka akan mendapatkan bonus bila datang tepat waktu atau dalam kurun waktu tertentu. Kalau begini, waktu kedatangan bis/angkot akan lebih jelas, penumpang pun dapat mengandalkan transportasi umum. Aku dengar angkot dekat rumah sudah ada aturan seperti ini, jadi sekitar 5-10 menit, angkot itu pasti datang. Dan sesama angkot yang sama akan berlomba-lomba untuk tepat waktu.


Kedua, jelas sekali transportasi umum kita kurang banyak, yaa tapi balik lagi, mungkin karena indikatornya adalah 'bis/angkot penuh'. Kalau ini indikatornya, pemerintah akan 'mencukupkan' transportasi umum, agar tiap bis/angkot yang ada itu penuh. Iya, penuh sesak. Bener-bener ngga bisa gerak di dalam busway yang notabene-nya adalah transportasi terbaru kita. Oh, how ironic.
Kalau indikatornya adalah waktu, akan dengan sendirinya menciptakan armada yang lebih banyak.

2. Masalah sikap warga Indonesia

Sikap disini termasuk buang sampah pada tempatnya, antri, urusan administrasi sampai masalah korupsi. Tidak ada sistem 'punishment/reward' di beberapa tempat. Tidak ada hukuman bagi yang membuang sampah sembarangan, pun tidak ada penghargaan bagi yang membuang sampah pada tempatnya. Iya, mungkin susah untuk memberikan penghargaan ke tiap individu yang membuang sampah pada tempatnya, tapi sangat memungkinkan untuk memberikan hukuman bagi yang membuang sampah sembarangan. Buat saja tulisan kalau membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda sekian dan pasang kamera ditempat-tempat yang sering menjadi tempat pembuangan sampah ilegal. Mungkin ngga bisa semua tempat, but it's a start. When it goes viral, orang dengan sendirinya belajar untuk membuang sampah pada tempatnya, walopun tidak ada kamera disekitarnya.

Kedua, urusan antri. Naik bis/angkot ngga ada yang namanya antri, sekalipun itu busway. Sebenernya, kita bisa kok kalau disuruh antri, asalkan dikasih tempat untuk antri. Coba liat antrian untuk taxi di mal-mal atau bandara, dan coba liat antrian kasir di mal, banyak orang dengan sabarnya antri. Jadi apa yang kurang? Hanya tempatnya, sodara-sodara. Coba dibikin halte yang jelas dan tulisan dimana untuk antri, pakai papan arah antrian kalau perlu dan diawal-awal aturan baru ini dibikin, ada satu orang untuk menjelaskan aturan baru ini. Lama-lama kita terbiasa antri, dan ngga perlu tulisan atau papan arah lagi. 
Same goes to antrian di dalam kamar mandi. Di Indonesia, terbiasa antri di depan masing-masing pintu kamar mandi, padahal di negara lain, mereka antri di ambang pintu pertama. Jadi siapapun yang datang pertama akan masuk ke pintu kamar mandi manapun yang kosong duluan. Well, they can just put a sign where to queue, it shouldn't be hard to do - unless they don't care.

Buat papan untuk antri itu ngga susah, dan harusnya ngga mahal, kalau dibandingkan bikin monorel yang gagal itu. Tapi kenapa ngga? Kemungkinan para pengusaha mall/bis ngga tau atau mereka tau tapi ngga peduli. Kenapa ngga peduli? Again, no rewards. Ngga ada yang memberikan mereka penghargaan. Orang yang posisinya diatas mereka pun ngga peduli dengan itu, yang penting bisnisnya sukses dan banyak pengunjung/penumpang. And this goes all the way up. Harus dimulai dari yang ada diatas hierarchy, untuk mulai menerapkan sistem 'punishment/reward'.

Ketiga, administrasi. "Kalau bisa lama, untuk apa dipermudah/dipercepat?" Tagline untuk urusan administrasi di kebanyakan tempat di Indonesia. Karena cepatnya dokumen/urusan yang diselesaikan tidak menghasilkan tambahan apapun untuk para pegawai. Andaikan mereka diberi bonus untuk menyelesaikan sekian dokumen/urusan dalam waktu sekian, pasti urusan administrasi akan lebih cepat.

Keempat, masalah korupsi. Korupsi dimulai dari yang kecil hingga besar. Dan seingat saya, beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang bebas hukuman dari korupsi besar, entah apa alasannya, dan entah gimana ceritanya. Itu menggambarkan sistem punishment/reward ngga berjalan. Ini membuat orang berpersepsi "ngga masalah lah saya ngambil beberapa ratus ribu dana kantor, orang yang korupsi milyaran/trilyunan itu bebas kok" atau "sesekali lah pakai dana kantor untuk urusan pribadi, yang penting tugas kantor selesai, daripada itu proyek negara uangnya habis tapi ngga selesai". Kalau begini, tidak ada yang berani menyalahkan mereka, salahkan pada aturan 'punishment/reward' yang ngga jalan di negara ini.

Ini hanya beberapa contoh masalah besar yang terpikir. And the common problem is there is no punishment/reward system. A simple punishment or reward can have a great contribution on making a better Indonesia. Harus ada orang yang mempunyai kekuasaan dan peduli dengan Indonesia untuk mengubah keadaan ini.

Just a little thought of mine that I'd like to share. Silahkan bagi yang berbeda pendapat. Kalau mau, leave a comment below, it's nice to have a friendly, open-minded discussion. Itu artinya banyak yang peduli dengan Indonesia.

Maafkan tulisan yang bilingual ini. It doesn't make me love Indonesia any less. I just feel like, for some words, I express it better in English.

:)

Thursday, November 6, 2014

Beauty with[out] make up :)



This is a video with a beautiful message by Colbie Caillat, titled Try.

When the first time this video was launch, many people commented on it, including pros and cons. I was going to write about it, but I couldn't find a time to write. So here I am now, commenting about the video, about make up, mostly.

This video is saying that don't put on a mask so that everybody likes you. Don't put your make up on if you don't want to. Don't excersice just to get a compliment from others. Make up and excercise is not wrong, the purpose is.

And yes, every woman should know that they are beautiful. So I don't think put some make up every day, every moment is neccessary. 

For me, make up is only for work - when it's required to. If you work behind the desk and you don't want to wear make up, you can just look natural but make sure you have enough sleep so you'll look fresh. I'm sure they don't mind. Because the point of using make up is just to look neat and professional. If you look fresh and behave, I'm sure you'll look professional and neat already. *Hey, man don't wear make up to work, why should we (woman)?

If you want to wear make up, before wearing it, make sure you like yourself first. So wearing make up is not for you to hide your fear, but to boost up your confidence. It maybe sounds the same thing, but the focus are different. If you wear make up when you feel you can't blend in and not comfortable with yourself, then don't. Wear it when you are happy and comfortable, so make up can only make you happier.

When you like yourself, then you don't want to wear make up. You'll think that 'I like the way I look now, why should I put some make up?'. Only, some other time - perhaps special occasion - when you feel like you want to look differently - in a good way. I'll say that make up goes in line with your wardrobe. If you look everyday casual, then no need make up. But if there's special occasion, you'll wear something special obviously, so you may wear some make up.

But if you wear make up every time - outside work, ask yourself why you wear make up. Because for me, wearing make up is a sign of insecurities if you use it almost every time.

This post is for those girls that wears make up everyday. A childhood friend of mine is one of them. I feel like I want to tell her that "you don't need those make up to look pretty, you ARE beautiful and I even like they way you look naturally".

Monday, November 3, 2014

Kehilangan..

I found this on Facebook. This is exactly what I was thinking when I was in a process of wearing hijab: http://anisalarasati.blogspot.tw/2013/09/my-new-look.html





Thursday, October 16, 2014

Quick reminder

Pernikahan itu sesuatu yang agung.
Pernikahan itu untuk jangka panjang.
Bila sudah menikah, jagalah baik-baik janji suci dan komitmen anda. 
Begitu juga dengan perbuatan dan pandangan anda. 
Suatu hal yang lucu dulu, bisa jadi suatu hal yang tidak pantas utk dilakukan ketika anda sudah menikah. 
Persoalan rumah tangga apapun yang ada, selesaikanlah, jangan mencari pelarian diluar. 
Think twice or even triple before you act.

Pardon me, yang tidak tau banyak tentang pernikahan. This is just a quick message for everyone - married and married to be -. I know it's basics and cliche, but I found that we all need to be reminded once in a while.

Saturday, October 11, 2014

Let it go ~

I'm never going back, the past is in the past
Let it go ~
Let it go ~
[Let it go - Frozen]


Yes, as the song told us: let it go, people!

We all have our own past, which can be pretty bad and it might be because of someone else's fault. It's our right to be mad and blame ourselves or them who hurt us. But it won't take us anywhere. The pain, anger and maybe shame or regret will always haunt us if we still look back at the past. The past is happened for us to take the lesson. So when we know all about the past that happened to us (why, how and who's fault), we have to accept, forgive, learn and move on.

If you still can't forgive the person that hurt you, then everytime you have a problem, you will always blame them. In that case, you will not be able to find a good solution for your current problem and you will be surrounded by all the negative feelings that will drag you down. And nothing good can come out from negative feelings.

Blaming the past that will not talk back to you, nor giving any solution, is just pathetic. It's like blaming a dead person. Yes, in case you haven't notice, the past is dead.

I know letting go is not easy, but just take a baby step forward at each time. It needs process, but the important thing is you move on, no matter how far it is.

Good Luck! :)

Thursday, October 2, 2014

Pacaran?

Islam tidak mengenal yang namanya pacaran dan sekarang sudah banyak pihak yang menyerukan untuk tidak berpacaran dengan berbagai alasan - termasuk alasan agama (dosa). Nevertheless, aku ngeliat banyak temen-temen yang Islam, yang taat solatnya dan mengerti banyak tentang Islam, tetap pacaran. So I come up with the conclusion that: pacaran itu tidak berkaitan langsung dengan pengetahuan seseorang dengan Islam. Jadi, sebenarnya ngelarang untuk berpacaran karena dosa itu kurang 'ngena'.

So here I am, trying to give my point of view.

FYI, aku pernah pacaran dan hubungan 'KJDA' (kita jalanin dulu aja) hahaha. Tapi mungkin aku sekarang ada di tahap jenuh pacaran dan cape disakitin terus. Dan aku jadi ngerasa, seruan Islam untuk tidak pacaran itu memang yang terbaik. Foolish me, yang ngga langsung percaya dan harus merasakan 'up and down'-nya pacaran.

Berikut ini alasan kenapa aku berubah pikiran:

1. I'm a whole-hearted type of person.
Aku ngga pernah setuju untuk in a relationship kalau aku ngga suka. Aku ngga pernah nerima hanya karena status, uang atau hal yang lainnya. Jadi, setiap kali pacaran aku selalu memberikan yang terbaik. I always give the best of me. Ini ngga salah kalau dengan orang yang tepat. But if it's a wrong man or a right man in a wrong time.. I can be easily hurt. And yes, I was hurt many times. For most of the time, I try to stay, untill I can barely hold on. Just because, aku ngga mau menyesal di kemudian hari. Jadi bisa disimpulkan bahwa di setiap pacaran, I was broken down untill my last breath.. and now, I don't want this to happen all over again.

2. I over-think and over-assume.
I'm a girl, obviously. Jadi semua perempuan pasti ngerti apa rasanya sms ngga dibales atau dia tiba-tiba ngilang tanpa kabar. Walaupun aku ngga pernah nuntut untuk dikabarin atau untuk sms setiap hari, tapi aku tetep selalu kepikiran pas sms aku lama ngga dibales, atau ketika seminggu intens komunikasi, tiba-tiba dia hilang gitu aja. All of these takes my time and effort. Capek juga sebenernya worrying and assuming too much, but we (girls), just can't help it. Kayaknya udah dari sana nya cewe pasti worring, assuming and thinking too much. Dan kalau udah begitu, aku ngga bisa konsentrasi belajar atau ngerjain apapun.

At this point, mungkin kamu bisa bilang: "pacaran itu ngga selamanya nyakitin kok, aku selama ini seneng-seneng aja pacaran".
Yap, ada kalanya kok aku juga ngerasain seneng and this leads to my third reasons.

3. Tetep ngga bisa konsentrasi, walaupun lagi seneng.
Seneng-seneng pas di awal pacaran itu ngebuat aku pengen terus berkomunikasi. Yaa pengen ketemu, sms, chat, or anything. Tetep aku ngga bisa full konsentrasi ke sekolah/kuliah. 

Jadi bisa dihitung dengan jari berapa hari aku ngerasa produktif, yaitu hari-hari normal diluar 3 kondisi diatas.

*Sedikit kronologi kejadian*
Awal-awal ngerasa seneng banget (kondisi ke-3), lalu pelan-pelan dia mulai melakukan aktifitas normalnya dan ngga intensif lagi komunikasi (kondisi ke-2). Setelah ini mungkin aku 'mengerti' dan mulai produktif melakukan kegiatanku. Tapi pengalamanku, mereka semakin lama semakin cuek/jauh, jadi aku mulai ngga fokus lagi by trying to hold on (kondisi pertama) and not long after that.. it's over.

Ngga ada yang salah dengan ke-3 sifat atau kondisiku itu, it was just in a wrong time and/or with a wrong man. I feel like I'm wasting my time and energy. Dan aku sadar bahwa jodoh itu sudah diatur oleh Allah. Jadi buat apa aku ngerasain roller-coaster dengan in and out of relationship, kalau Allah sudah menyiapkan semuanya untukku?

Dan apa sih keuntungannya pacaran?
 1. Keliatan keren/laku?
Ngga juga.. banyak orang yang keren/sukses sekolah/kuliah/kerja tanpa pacaran.

2. Diperhatiin?
Masih ada keluarga dan teman yang bisa ngasih perhatian yang lebih tulus dari pacar.

3. Temen curhat/temen jalan?
Well, ngga perlu pacaran untuk bisa jadi temen curhat atau temen jalan.

Hmm, what else?

Honestly, dulu aku pacaran karena temen-temen yg lain pada pacaran, jadi aku pengen ikut2an dan penasaran ngerasain gimana pacaran itu. Dan aku dulu ngerasa kalau aku bisa menghindar dari anything that leads to 'zina'. As I know better, I realize 'zina' can happen in a blink. Despite that, I also don't want to risk all my heart, time and energy only for my curiousity, the fame and peer-pressure.

Aku setuju bahwa kita perlu mengenal calon pendamping kita. Tapi masih banyak cara yang lain, ngga hanya pacaran, HTS, KJDA atau jenis-jenis hubungan lainnya. 

I'll go for: friend. Tetaplah berteman dengan orang yang berpotensi atau berkeinginan jadi pendamping kita. Ngga ada status and no heartbreaks, tapi kita tetep bisa diskusi dengan orang tersebut dan melihat kualitas dirinya.

It's been 2.5 years I've not been in any relationship. I value myself higher that I don't want to be a victim anymore. No heartbreaks and tears within these years and YES, I feel so much better.

Thank you for all those mens and relationships that makes me who I am right now. Mungkin ini jalanku untuk mengerti mana yang benar dan mana yang salah.

Semoga aku tetep berpegang teguh prinsipku ini :)