Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Friday, June 2, 2017

Minioritas - Mayoritas

Aku sering baca perbandingan antara pemeluk agama minioritas di Indonesia dengan pemeluk agama minioritas di negara lain. Katanya pemeluk agama minioritas (Kristen, Katolik, Budha, Hindu) itu terlalu diistimewakan/dimanjakan di Indonesia yang mayoritas agamanya Islam. Padahal pemeluk agama Islam di negara yang mayoritas agama Kristen itu ngga seperti itu dan cenderung 'struggling'. Wait, perbandingan ini tuh ngga 'apple-to-apple'. 

Kita lihat dulu dasar negaranya. Negara Indonesia adalah negara yang beragama dan mengakui 5 agama besar. Sedangkan, misalnya Taiwan itu landasan negaranya tidak bawa-bawa agama dan mayoritas penduduknya juga tidak memiliki agama. Jadi kalau membandingkan agama minioritas yang diakui di Indonesia dengan agama minioritas yang tidak diakui di Taiwan, yaa itu ngga setara.

Pemeluk ke-lima agama di Indonesia mempunyai hak yang sama. Mereka berhak untuk beribadah di tempat ibadah dengan tenang. Maka dari itu negara pun meliburkan hari-hari besar agama tersebut. Ini semua wajar. Ngga ada yang mengistimewakan dan memanjakan.

Sedangkan di Taiwan, by default negara tidak perlu membangun rumah ibadah dan meliburkan hari raya agama. Dan memang, tidak ada hari libur agama satu pun di Taiwan. Tapi, di Taiwan ini ada beberapa rumah ibadah, termasuk Mesjid. Ini baru bisa dibilang mengistimewakan dan memanjakan orang yang beragama/minioritas. Dan misalnya di beberapa waktu umat Muslim struggling mencari tempat untuk solat atau mencari makanan halal di Taiwan, hal ini wajar.. kan lagi di negara yang tidak beragama, yaa pasti sulit. 

Kesimpulannya:

1. Jangan membandingkan negara yang mengakui agama minioritas dengan negara yang ngga mengakui agama minioritas. Kalau mau membandingkan, bandingkan kedua negara yang sama-sama mengakui agama minioritas, atau dua negara yang sama-sama ngga mengakui agama minioritas. Seperti US dan Taiwan, yang sama-sama ngga mengakui agama Islam. Bandingkan bagaimana perlakuan dan fasilitas untuk umat Muslim.

2. Kalau suatu negara tidak mengakui agama minioritas, adalah sikap yang wajar ketika ada perbedaan perlakuan dengan pemeluk agama mayoritas. Tapi, ketika negara tersebut mengakui agama minioritas juga, sudah seharusnya tidak ada perbedaan perlakuan.

Monday, November 3, 2014

Kehilangan..

I found this on Facebook. This is exactly what I was thinking when I was in a process of wearing hijab: http://anisalarasati.blogspot.tw/2013/09/my-new-look.html





Thursday, October 2, 2014

Pacaran?

Islam tidak mengenal yang namanya pacaran dan sekarang sudah banyak pihak yang menyerukan untuk tidak berpacaran dengan berbagai alasan - termasuk alasan agama (dosa). Nevertheless, aku ngeliat banyak temen-temen yang Islam, yang taat solatnya dan mengerti banyak tentang Islam, tetap pacaran. So I come up with the conclusion that: pacaran itu tidak berkaitan langsung dengan pengetahuan seseorang dengan Islam. Jadi, sebenarnya ngelarang untuk berpacaran karena dosa itu kurang 'ngena'.

So here I am, trying to give my point of view.

FYI, aku pernah pacaran dan hubungan 'KJDA' (kita jalanin dulu aja) hahaha. Tapi mungkin aku sekarang ada di tahap jenuh pacaran dan cape disakitin terus. Dan aku jadi ngerasa, seruan Islam untuk tidak pacaran itu memang yang terbaik. Foolish me, yang ngga langsung percaya dan harus merasakan 'up and down'-nya pacaran.

Berikut ini alasan kenapa aku berubah pikiran:

1. I'm a whole-hearted type of person.
Aku ngga pernah setuju untuk in a relationship kalau aku ngga suka. Aku ngga pernah nerima hanya karena status, uang atau hal yang lainnya. Jadi, setiap kali pacaran aku selalu memberikan yang terbaik. I always give the best of me. Ini ngga salah kalau dengan orang yang tepat. But if it's a wrong man or a right man in a wrong time.. I can be easily hurt. And yes, I was hurt many times. For most of the time, I try to stay, untill I can barely hold on. Just because, aku ngga mau menyesal di kemudian hari. Jadi bisa disimpulkan bahwa di setiap pacaran, I was broken down untill my last breath.. and now, I don't want this to happen all over again.

2. I over-think and over-assume.
I'm a girl, obviously. Jadi semua perempuan pasti ngerti apa rasanya sms ngga dibales atau dia tiba-tiba ngilang tanpa kabar. Walaupun aku ngga pernah nuntut untuk dikabarin atau untuk sms setiap hari, tapi aku tetep selalu kepikiran pas sms aku lama ngga dibales, atau ketika seminggu intens komunikasi, tiba-tiba dia hilang gitu aja. All of these takes my time and effort. Capek juga sebenernya worrying and assuming too much, but we (girls), just can't help it. Kayaknya udah dari sana nya cewe pasti worring, assuming and thinking too much. Dan kalau udah begitu, aku ngga bisa konsentrasi belajar atau ngerjain apapun.

At this point, mungkin kamu bisa bilang: "pacaran itu ngga selamanya nyakitin kok, aku selama ini seneng-seneng aja pacaran".
Yap, ada kalanya kok aku juga ngerasain seneng and this leads to my third reasons.

3. Tetep ngga bisa konsentrasi, walaupun lagi seneng.
Seneng-seneng pas di awal pacaran itu ngebuat aku pengen terus berkomunikasi. Yaa pengen ketemu, sms, chat, or anything. Tetep aku ngga bisa full konsentrasi ke sekolah/kuliah. 

Jadi bisa dihitung dengan jari berapa hari aku ngerasa produktif, yaitu hari-hari normal diluar 3 kondisi diatas.

*Sedikit kronologi kejadian*
Awal-awal ngerasa seneng banget (kondisi ke-3), lalu pelan-pelan dia mulai melakukan aktifitas normalnya dan ngga intensif lagi komunikasi (kondisi ke-2). Setelah ini mungkin aku 'mengerti' dan mulai produktif melakukan kegiatanku. Tapi pengalamanku, mereka semakin lama semakin cuek/jauh, jadi aku mulai ngga fokus lagi by trying to hold on (kondisi pertama) and not long after that.. it's over.

Ngga ada yang salah dengan ke-3 sifat atau kondisiku itu, it was just in a wrong time and/or with a wrong man. I feel like I'm wasting my time and energy. Dan aku sadar bahwa jodoh itu sudah diatur oleh Allah. Jadi buat apa aku ngerasain roller-coaster dengan in and out of relationship, kalau Allah sudah menyiapkan semuanya untukku?

Dan apa sih keuntungannya pacaran?
 1. Keliatan keren/laku?
Ngga juga.. banyak orang yang keren/sukses sekolah/kuliah/kerja tanpa pacaran.

2. Diperhatiin?
Masih ada keluarga dan teman yang bisa ngasih perhatian yang lebih tulus dari pacar.

3. Temen curhat/temen jalan?
Well, ngga perlu pacaran untuk bisa jadi temen curhat atau temen jalan.

Hmm, what else?

Honestly, dulu aku pacaran karena temen-temen yg lain pada pacaran, jadi aku pengen ikut2an dan penasaran ngerasain gimana pacaran itu. Dan aku dulu ngerasa kalau aku bisa menghindar dari anything that leads to 'zina'. As I know better, I realize 'zina' can happen in a blink. Despite that, I also don't want to risk all my heart, time and energy only for my curiousity, the fame and peer-pressure.

Aku setuju bahwa kita perlu mengenal calon pendamping kita. Tapi masih banyak cara yang lain, ngga hanya pacaran, HTS, KJDA atau jenis-jenis hubungan lainnya. 

I'll go for: friend. Tetaplah berteman dengan orang yang berpotensi atau berkeinginan jadi pendamping kita. Ngga ada status and no heartbreaks, tapi kita tetep bisa diskusi dengan orang tersebut dan melihat kualitas dirinya.

It's been 2.5 years I've not been in any relationship. I value myself higher that I don't want to be a victim anymore. No heartbreaks and tears within these years and YES, I feel so much better.

Thank you for all those mens and relationships that makes me who I am right now. Mungkin ini jalanku untuk mengerti mana yang benar dan mana yang salah.

Semoga aku tetep berpegang teguh prinsipku ini :)

Saturday, July 12, 2014

Berkah Ramadhan :)

Selama ini aku hanya terfokus pada diriku saja. Aku, aku dan aku..

Aku selalu mikir betapa lambatnya aku mengerjakan riset, susahnya aku memikirkan metode-metode yang lain dan stressnya aku memikirkan cara untuk mengembangkan topik risetku ini. Dan ngga jarang aku merasa bahwa kapasitas otakku itu udah mentok dan sepertinya yang lain jauh lebih pinter dibandingkanku.

Yang paling bikin nge-down itu ngeliat 2 anak lab, master degree: yang satu dia ngambil salah satu topikku dan digabungkan dgn topik yang lain dan dia bisa punya 4 studies, nilai thesisnya paling bagus, masuk thesis competition dan pastinya Prof bangga sekali dengannya. Yang satunya lagi ngikutin salah satu metode-ku, dan lagi-lagi dia bisa punya 4 studies, nilainya bagus, anak kesayangan Prof, masuk thesis competition juga.

Dan aku? dari dulu 3 studies aja ngga selesai-selesai.. Walaupun emang beda tujuan dan jalan cerita kita, tapi ini terlihat amat sangat kontras.. Sedangkan waktu untuk submit paper udah di ambang pintu..  yup, the pressure is so-very huge..

Ketika underpressure, berkali-kali terlintas untuk mundur, take a break, or daydreaming hoping it's over soon. Setelah itu teringat alasanku untuk S3 dan perlahan-lahan bangkit. Orang tua-lah yang terus menyemangatiku untuk terus maju tanpa stress dan mengingatkanku untuk perbanyak Dzikir. Mungkin karena ngeliat aku begitu stressnya, mereka bilang "yaudah nis, ini iseng-iseng berhadiah, jangan dibawa stress yaa". And yeah, somehow it works :)

Beberapa minggu setelahnya, Ramadhan datang. Mulai shalat tharawih + witir dan lebih banyak baca Al-Quran + Dzikir.

Sesaat setelah itu ada beberapa yang aku rasakan dan dapatkan.. Mungkin ini berkah Ramadhan.. Alhamdulillah:
1. Hatiku lebih tenang dan bisa mengerjakan riset tanpa stress. Somehow I found the way to cope with it.

2. Nilai progress report selama ini ternyata dikasih nilai A sama Prof.. Selama 3 semester kemarin dapet A-, dan padahal sekarang ngga berharap banyak, mikirnya paling dapet nilai yang sama juga.. Tapi lalu aku mikir, mungkin A ini bisa jadi salah satu pemacu untuk menyelesaikan paperku yang artinya mungkin "you're good enough, you've been through long enough, finish it, don't give up"

3. Kuesioner boleh disebar, yang artinya setelah kuesioner ini tinggal merevisi penulisan dan it's ready! Aamiin..

4. This is the most shocking thing that happened.

Beberapa temanku mulai bilang kalau mereka ingin sekali nerusin kuliah sampai S3, tapi kondisi yang tidak memungkinkan: perlu cari uang, perlu menghidupkan keluarga, sudah ada anak, perlu nerusin bisnis keluarga, tidak dapat beasiswa, dll..

Aku tersentak. Aku ngga sadar bahwa banyak sekali orang diluar sana yang menginginkan ini, tapi belum bisa. Aku yang ... belum perlu cari uang, masih ada orang tua yang bekerja, belum berkeluarga, belum ada anak, tidak ada bisnis/kegiatan lain, dan dapat beasiswa full ... kenapa ngga bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya?
 
Ini membuat aku bersyukur tiada henti. Membuatku semangat mengerjakan risetku.
Aku mau memanfaatkan kesempatan langka ini - yang mungkin tidak akan datang kepadaku lagi.


There's no such thing as second chance, right?
So do it wholeheartedly and never take things for granted ;)



All and all, ternyata bukan aku, risetku atau Profku yang salah. Tapi ibadahku-lah yang kurang.

Tuesday, October 15, 2013

'Udah ada tanggalnya'

Ketika ngomongin pernikahan, selalu aku jawab: "belum ada calonnya" atau "masih belum nemu calonnya". Lalu saat itu dijawab oleh seorang istri ustadz:

"Tenang aja, udah ada tanggal yang ditetapkan oleh Allah kok untuk mba Nisa.. 'Mba Nisa dengan siapa, pada tanggal sekian..' gitu"

Simple. Tapi ngena banget. Mengingatkanku kembali bahwa jodoh itu sudah ada yang atur. I don't need to worry anymore and let Allah handle it

To all jomblo (including me :p):
Jadi, udah ngga perlu lagi galau kalo gebetan menjauh, bingung kalo ngga ada yang ngedeketin atau sedih pas gebetan punya pacar baru. Semua udah diatur kok, ngapain dipikirin? mending mikirin sekolahan, kuliah, kerja, hobi baru, keterampilan baru, tambahin wawasan, tambahin teman, dll.

Gunakan waktu berhargamu dengan kegiatan positif! :)

Wednesday, September 18, 2013

FAITH :)


I got those words from "International Muslim Exhibition Culture" in my campus on November 2012. Since then, these words keep spinning in my head. It kept telling me that I need to have a bigger faith, especially when it comes to hijab. It really pushes me through my hard times. 

And now I can smile while reading it because I know I just beat my fears down and wear my hijab on :)
I'm so glad I got this message. It really helped me through.

So guys, whatever things you're dealing with, "Let your faith be bigger than your fears".

Sunday, September 1, 2013

My new look

I proudly announce that, I'm wearing hijab. You know, a scarf that covers your head. If you ask why and how, well, it's such a long journey. But let me break it down into 5 things or steps that went through my mind before I decided to wear hijab. Hopefully, this post inspires other Muslim women to cover their heads.

1. I'm not ready.
Well, that is my reason every time people ask me why I don't wear hijab. It was until a women came on to me -out of no where- and asked me why, intensively. After I answered it with my classic answer, she said, "if you're about to die, you can't said 'wait, don't take me yet, I'm not ready, I haven't wear hijab', can you? and since wearing hijab is an obligation, you need to wear it, no matter what". Her words struck me pretty bad. My tears started to falls, don't know why. Then, I kept on thinking about it and started to plan. I also thought that if I keep on waiting, until when will I be ready? Will I ever know that I'm ready? I remember it correctly, that woman came on to me on October 2010. And a little while after that, I started to plan forwards.

2. Look Different.
This is the first thing that comes to my mind when I started to think about hijab. How will I look afterwards? How different will I look? How will others react? Will I comfortable with myself? Will I able to wear cute/fashionable clothes anymore? - It was me, long before that women came on to me. After she came, I thought that I can try different ways to wear hijab so that I feel comfortable in it and I still can wear cute/fashionable clothes as long as it is long sleeves and big enough for me to wear. So this problem is solved. Checked! It was around May 2011.

3. Bad Thought.
When other people from other country saw a women with hijab, they thought she is a terrorist. Or in some country, they underestimate Muslim woman. Since I've been to that country and heard someone calling Muslims are terrorist, I'm afraid if I'm being noticeable by them, I don't have any argument to fight back. Back then I was just a kid. I know little about my religion. Since then, I try to seek more knowledge, throw some challenging questions to other Muslims and listen to their answers, just in case later on, it will be my time to answer it. I observe people and realize that there are a few Muslims out there that know little about Islam, even less than me. But they are proud and say it out loud that they are Muslims. Then, I thought that there will never enough knowledge for someone to understand, but you need faith to do what you need to do. As long as you believe in it, Insha Allah, others will understand. I have my faith around Feb 2012.

4. Lost my significant other and 5. Everything else
Sounds silly, I know. But look around, people do care about what's their significant other are thinking or saying. And after a long steps that I went through and faith that I finally have, I still think about what if after I change, I lost him. Because maybe he doesn't like the changes that I've made. After several thoughts, I finally said to myself "I rather lost him, than lost a GOD". I know that this hijab is really important for me, it's an obligation for every Muslim woman and if I don't wear it, Allah may not be with me anymore. And I know that there will be someone out there that accept me with hijab. Almost at the same time, I also thought that I might lose what I have right now. Anything. Such as freedom, or any other opportunities. But then, as I know better, woman will feel free when they wear hijab, there will be no guy looking at them with 'that' look. And, if you can't get a good opportunity by wearing hijab, then it's not good enough. Nothing comes good from someone who can't respect our religion. And remember that Allah will give you even better opportunity if you still wear your hijab. I brace myself to move forward around March 2013.

Then, I just wait and getting ready for it.
Why not wearing it directly? Well, I'm not a big fan of 'suddenly', especially, not for this big changing in my life and myself. Even more, from March-July, it was oh-super-hectic-days for me, busy preparing my thesis and all of the documents for PhD admission. I don't think I have a little room to think about this changing. Because you know, you can't just suddenly wear hijab as you like it - at least, not for me. I need to think how will I wear it and what kinds of materials that I'm comfortable with. I need to prepare every tiny details, so that when I change, I don't feel like a stranger with myself. So I decided to wear it around August when things are settled.

So here I am, wearing hijab, proudly, since August 26th.

In 2012, I experienced a lot of unique things or reminders - I would say, which makes me feel uneasy and rush the process of wearing hijab. (1) Around January, out of a sudden, my mom's friend asked me when will I wear hijab. (2) On March, a stranger thought that I'm Christian because I don't wear hijab. (3) Around June-July, my mom's staffs asked me, when should I cover my head like my mom. (4) Around July, a stranger that doesn't know if I'm a Muslim or not, ask me why I don't wear hijab. (5) Uncountable nightmares about not wearing hijab and there was one night I woke up from that nightmares and found tears on my eyes.

 
*Despite all my understandings in each step, there's always one legitimate-undeniable facts that I included in my steps: "There's always good things that comes from believe in Allah and woman looks prettier in front of Allah if they cover their body and head, no matter it's a fashionable clothes or not."
 

Monday, April 29, 2013

Indonesia itu negara yang beragama.. bukan negara Islam.

Disini saya mencoba mengingatkan kembali kepada pihak-pihak yang belum tau, atau mungkin lupa. "Indonesia itu negara yang beragama, yang mayoritasnya itu beragama Islam, bukan negara Islam". Saya masih inget pelajaran PPKN dulu pas SD: di Indonesia, ada 5 agama yang besar, yaitu: Islam, Kristen (Katolik & Protestan), Budha, dan Hindu. Jadi, bukan hanya Islam saja yang ada di Indonesia. Sepakat?



Oke, sebelum dimulai, perlu diketahui kalau saya ini juga beragama Islam. Dan disini saya tidak akan membahas isi dari peraturan Islam - apalagi membahas Al-Quran dan Hadits. Saya nulis ini juga tidak ada pengaruh atau maksud dan tujuan tertentu, purely karena ingin menuliskan pendapat pribadi.

Jadi, sepakat kan yah, di Indonesia ada beberapa agama-agama lainnya?
Lalu, mengapa larangan-larangan dan peraturan-peraturan Islam harus dibawa ke level negara?
Mengapa pada akhirnya negara membuat peraturan ini-itu dan menolak kegiatan ini-itu, atas nama Islam?
Untuk mendapatkannya, beberapa pihak harus berkoar-koar di segala media, panas-panasan protes sana-sini. Tapi buat apa?
Buat apa mereka cape-cape melakukan itu semua?
Saya yakin, kalau mereka ngomong itu di mesjid, di perkumpulan orang-orang Muslim atau di pengajian-pengajian, itu akan jauh lebih efektif.

Sepengetahuan saya, target dari beberapa pihak tersebut adalah orang Muslim. Mereka ingin orang Muslim ingat pada larangan dan peraturan Islam. Saya setuju sekali dengan niat baik ini. Lalu, mengapa mereka harus mengatakannya di depan orang lain, yang bukan targetnya? Untuk apa mereka mendapatkan perhatian dari orang diluar target?

Didalam marketing, suatu produk tidak akan dapat dipasarkan kepada seluruh kalangan, oleh karena itu, marketer perlu melakukan targeting, yaitu menargetkan siapa saja konsumen yang akan dituju. Saya ambil contoh iklan kondom, yang jelas-jelas ini untuk konsumsi orang dewasa. Dan iklan ini pasti ditayangkan di TV larut malam, atau bahkan tengah malam. Karena marketer mau approach orang dewasa, yang masih terbangun pada jam segitu.
Ada yang pernah lihat iklan itu disela-sela film kartun di hari minggu? Ngga ada kan.
Karena anak-anak itu bukan target mereka, buat apa mereka buang biaya dan tenaga menjaring yang bukan targetnya?
______________________________________________________________

Lalu, kalau negara ikut andil dalam hal ini, sampai dibuat peraturan negara atau negara menolak suatu kegiatan, apa yang didapatkan oleh orang Indonesia lainnya, yang non-Muslim? Apa untungnya untuk mereka?
Pernah terfikir perasaan mereka?

Coba kalau keadaannya dibalik. Bayangkan seorang Muslim tinggal di negara yang minioritas Muslim. Lalu dibuat peraturan yang mengharuskan seorang Muslim memakai pakaian ini, melakukan ini-itu, dan sebagainya. Bagaimana perasaannya?

Saat ini saya tinggal di negara yang minioritas Muslim. Tetapi perlakuan dari orang lokal dan International yang agamanya berbeda, itu sangat baik. Bahkan mereka sangat menghormati dan curious, ingin tau Islam lebih jauh. 

Saya yakin, semua orang ingin keyakinannya itu dihargai. Dan bukankah Indonesia juga berslogan "Bhineka Tunggal Ika"? yang artinya, berbeda-beda tapi tetap satu. Bukan menyamakan Indonesia.
______________________________________________________________

Ada yang bilang alasannya: "nanti orang lain selain Muslim akan menggoda Iman orang Muslim".
Justru itu adalah cobaan. Setiap manusia pasti mengalami cobaan dan musibah di segala aspek, bahkan di kehidupan sehari-hari.

Saya ilustrasikan Iman sebagai ulangan. Seorang anak gagal di ulangan pertama, lalu ia bekerja keras, belajar tiap hari, hingga ulangan keduanya mendapatkan hasil maksimal. Anak tersebut tidak pernah tau kalau ia memiliki kekuatan untuk bangkit dan berjuang, kalau ia tidak pernah gagal. Got the point?

Jadi godaan dari orang lain selain Muslim itu tidak bisa dijadikan alasan. Ada lagi alasan yang lain?
______________________________________________________________

Disini saya hanya ingin menyadarkan kembali bahwa masyarakat Indonesia itu berbeda-beda, particularly, agamanya dan kita perlu menghormati satu sama lain. Jangan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, hanya demi kepentingan kelompok. Sebelum bertindak, coba dipikirkan apa untungnya buat kita kalau orang lain tau, dan apa dampaknya untuk mereka. Walaupun yang dilakukan itu adalah yang terbaik, tetapi itu hanya terbaik untuk kelompok. Orang lain diluar kelompok tidak akan peduli dengan hal itu. Lalu mengapa tetap juga melakukan sesuatu kepada audience yang tidak peduli?

Saturday, February 11, 2012

A Simple Advice

This is from my friend's blog. She wrote an advice from one of the greatest women in Indonesia, Fahmi Idris. The advice is simple, I bet everyone already know it. But it really helps when you're down. This advice successfully calms me down and so does my friend. Here's the advice. I'm sorry it is in Indonesian.

Kita wajib mendapatkan kebahagian karena kebahagiaan itu adalah milik kita. Jangan pernah mengantungkan kebahagiaan itu kepada orang lain. Buang jauh-jauh segala sesuatu yang akan membuat kita merasa sakit dan menderita, lupakan dan biarkan dia pergi. Serahkan semua urusan kepada-NYA, karena DIA-lah Tuhan yang maha segalanya.

I try to translate it in English, tho' I'm afraid the meaning change.

We deserve to be happy and we're the one who live our life, so don't put your happiness on someone else hands. Throw away the things that can hurt you, just forget it and let it go. Let God do the rest.

My advice, when you don't know which one is right or wrong, do what makes you happy. It's all that matter. As long as you're happy, you'll be safe. At least, you won't regret your choice that makes you happy.

Monday, January 30, 2012

Lesson Learned

Last week me and my family went Umrah. It is when Muslims visit Saudi Arabia to perform Tawaf and Sa'i. There are many history and meanings behind everything we did and I wrote down some of them that really catch my attention.

1. Tawaf.
It is where we should walk circling around Ka'bah 7 times while praying. This demonstrate that we should keep on praying to Allah while going through our daily lives. Never forget to pray, no matter what happened.

2. Sa'i
It is where we should walk back and forth from Al-Shafa hill to Al-Marwah hill. In history, Ibrahim's wife (Siti Hajar) and his son (Ismail) were in the desert. So Siti Hajar searched a water for her son. She left his son in the ground, in front of Ka'bah. First, she search it in Al-Shafa hill, when it is nothing there, she try to search in Al-Marwah hill. She went back and forth 7 times until finally Allah gave her a water. The water didn't come from either hills, it came from the place where Ismail laid down. That water is called Zamzam water, it is pure and we can drink it directly. What's more amazing is that water is still available until now, even though millions of people in Makkah drink it and some people bring it back to their own country.

What we learn from the history is that sometimes Allah doesn't give what we wanted and doesn't answer your pray straight away. But don't use it as an excuse to walk away and give up. Instead, you should keep on praying and have a faith, because Allah knows what's best for you and He will give it to you in the right time.

3. Qurban
Actually this is the activity where you do it in Hajj. But last time I went to that place and being told about the history. Allah asked Ibrahim to kill his only son and the one that have been waited for 10 years. But in the name of Allah, Ibrahim agreed. When the time to kill his son, Allah change his son into a goat. The purpose was Allah just wanted to test Ibrahim's loyalty. So this story proves how loyal Ibrahim is. He is ready to give everything in the name of Allah. Today we have to give a goat or a cow in every year, to remember that history and learn the lesson.

Everything that has been given to us will be taken back by Allah. Sooner or later we have to let go everything that He asks for. If it is the best for you, Allah will give it back to you. If He doesn't give it back, it means He will give a better one for you.


Knowing all these history and lessons calms me down. I have nothing to fear. Everything that happened is part of Allah's plan. I just have to ride it with my greatest effort and let Allah do the rest :)